Sabtu, 19 Mei 2012
STMJ minuman khas Indonesia
Senin, 14 Mei 2012
Jakarta oh jakarta
Lahan basah mengurus KTP di kecamatan kota
Jumat, 02 Maret 2012
Sukses itu ngak perlu ribet.
Kesuksesan seseorang datang dengan sendirinya jika kita menjalaninya dengan fokus dan optimis. Orang sukses belum tentu datang dari orang yang pintar,juara kelas,indek perestasi komulatif tinggi dan lulus kuliah dengan predikat kumlot.
Kesuksesan seseorang datang ketika orang itu fokus dan otimis kepada apa yang di jalaninya. Kesuksesan akan pergi ketika kita tidak optimis dengan apa yang kita jalani.
Contoh saja,bayi yang belajar berjalan demi untuk bisa jalan bayi harus terjatuh dan menagis tapi dia punya keinginan untuk bisa berjalan,keinginanaya berjalan membuat fokus dan optimis sehing bayi tersebut pada akirnya harapa yang ia inginkan di dapat.
Untuk menuju kesuksesan intinya memang fokus kepada apa yang kita jalani sekarang. Jika kita tidak fokus jangan harap apa yang anda inginkan akan tercapai.
Kapan kita haru fokus? Sebaiknya mulailah pada detik ini. Buatlah rencana, jangaka pendek,menengah dan kedepan,dan apa yang bisa membuat kita fokus.
Siapkan langkah langkah apa yang sudah kita geluti sekarang ini. Jika kita fokus pada apa yang kita lakukan sekarang ini insyaallah akan membuahkan hasil yang memuaskan.
Jangan lupa dukungan dari orang yang kamu sayangi juga perlu untuk mendapatkan suport dan bisa menjadi kesuksesan.
Semoga cerita ini bermanfaat dan bisa di terapkan dalam diri kita semua,untuk meraih kesuksesan yang akan kita gapai.(www.imanblogspot.com )
Minggu, 04 Desember 2011
Kata penjual kopi,Keprawana itu mahal.
Perbedaaan iman pujiono dan imam s arifin
Keinginan itulah yang membuat dirinya setelah lulus SMA, meneruskan kulaih di jurusan ilmu komunikasi. Iman memulai pertama kali kerirnya di bidang jurnalistik,menjadi penyaring informasi atau gattekipir radio swara wijaya kusuma FM Madiun. Setelah hapir selama tiga bulan kontrak kerja tidak di teruskan akibat, ngak tau alasane tiba- tiba di cut ".
Minggu, 03 April 2011
Fenomena Collection New Work
Dunia perbankan sedang dalam sorotan. Beberapa waktu yang lewat, seorang nasabah di Citibank yang bernama Irzen Octa dikabarkan meninggal akibat dugaan disiksa oleh petugas yang bekerja di salahsatu bank terkemuka tersebut. Beberapa pertanyaan patut diajukan dan pastinya pertanyaan-pertanyaan itu berkeliling memenuhi benak orang awam yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Debat kusir dan opini minor pun lantas menggiring bisnis perbankan ke sisi tembok paling pojok dan menerima justifikasi negatif dari masyarakat. Adakah ruang gelap dalam sistem perbankan? Hingga penyiksaan seolah-olah mendapatkan legitimasi dan apakah sebuah hal yang absurd terlanjur dianggap kenormalan meski jelas-jelas diambang rasio? Bahkan rasio kebinatangan sekalipun?
Dalam suatu kesempatan, seorang enterprenuer pernah berbagi cerita. Sungguh, pekerjaan menagih hutang bukan perkara yang gampang. Bagi seorang desk collection, apakah mereka di divisi inhouse atau pun field collector, sesungguhnya menjalankan pekerjaan yang memiliki tingkat stressing tinggi. Mencermati case kematian nasabah di Citibank, mari kita gunakan pola pikir yang obyektif, berdasarkan perenungan dari berbagai sisi, dan tentunya menuntut imparsialitas kita dalam memandang permasalahan yang ada.
Bukan rahasia umum bahwa sebagian besar, bahkan hampir semua pegawai yang bekerja sebagai desk collection adalah pegawai yang berstatus outsourcing. Dengan menyiasati Undang-Undang Ketenagakerjaan, maka setelah dua kali masa perpanjangan kontrak, biasanya pegawai yang bersangkutan akan dipindahkan ke perusahaan penyedia tenaga outsource yang lain. Sehingga pegawai yang bersangkutan tidak harus diangkat menjadi pegawai tetap. Perusahaan outsource dan perusahaan perbankan, pada umumnya hanya memberikan gaji pokok sesuai dengan ketentuan UMR. Sedangkan stimulus bagi pekerja, akan diberikan insentif bila target yang telah ditentukan sebelumnya terlampaui.
Berdasarkan hal tersebut, hanya ada dua pilihan bagi pegawai yang berstatus sebagai pegawai kontrak. Memenuhi target, atau akan di terminate dan kedua perusahaan itu tidak perlu repot-repot menyediakan pesangon. Dengan demikian, pegawai yang bersangkutan akan menggunakan berbagai cara agar beban target dapat tercapai dan insentif dapat mereka nikmati. Meski terdengar aneh, tetapi memaki-maki, atau bahkan mendiskreditkan customer hampir tidak dapat dihindari dalam dunia desk collection. Dan kasus yang terbaru ini, bahkan harus merenggut korban jiwa.
Point yang kedua, seperti disinggung diatas, bekerja sebagai penagih hutang memang memiliki tingkat resiko stress yang tinggi. Terkadang, tidak jarang terdapat nasabah yang memang memiliki karakter temperamen, atau beberapa nasabah yang tidak mempunyai ihtikad baik menyelesaikan hutangnya. Padahal, di lain sisi, petugas desk collection membutuhkan banyak payment agar diakhir bulan dapat memiliki uang yang cukup untuk dibawa pulang, atau minimal akan lebih safe dan terhindar dari staffing strategy.
Untuk itu, butuh kearifan dari pemerintah dan pengusaha, agar ke depan, tidak akan ada korban seperti Irzen Ochta yang selanjutnya. Kita berharap, pemerintah mereview kebijakan tentang outsourcing dan bagi petugas desk collection, mari kita gunakan cara-cara yang lebih wise dan smart, kita optimalkan negotiation skills dengan lebih santun, agar hasilnya lebih maksimal, dan meminimalisir komplain dari nasabah. Terakhir, mari kita berharap aparat kepolisian mengusut tuntas kasus ini, dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap dunia perbankan.


